Ketua DPD Walubi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Brillian Moktar menyampaikan, kegiatan tersebut berjalan dengan baik.
“Tadi ketua panitia sudah banyak menyampaikan tentang Waisak dan Pradaksina, bahwa agama Buddha ini pada intinya adalah kesadaran. Pradaksina ini ada hubungan dengan kesadaran, kita melangkah, kita renungkan,“ ungkapnya.
Umat Buddha itu, katanya, bukan hanya di Pematangsiantar, bahkan di dunia, adalah makhluk yang paling sabar.
“Jadi kalau dicubit, jangan dibalas. Tadi juga diceritakan tentang Waisak, ada tiga peristiwa penting dan ini sudah diperingati, telah 2570 tahun dan waktu yang berkesinambungan, begitu lama. peristiwa ini sangat luar biasa. Tangan satu di atas, dan satu tangan di bawah. Artinya, saya lahir yang terakhir kali,” ujarnya.
Menjelaskan, setiap orang yang beragama Buddha atau siapapun yang belajar tentang agama Buddha, harus bisa mengentaskan kependeritaannya.
“Pesan saya, melalui Waisak tahun 2570 ini, Pak Wesly dan semua majelis, Walubi dan Permabudhhi, serta umat Buddha harus bersabar sesuai tema kementerian, Dharma menjaga Perdamaian Dunia. Maka kita harus meningkat lagi, nomor 1 di Indonesia untuk kerukunan umat beragama di Siantar,” pintanya.
Tak lupa mengingatkan kembali, sesuai pesan Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun Susanto, langkah demi langkah dijaga, dan suara dijaga.