• Rabu, 12 Agustus 2026

Garoga Setelah Banjir Bandang: Desa Mati di Hilir Batang Toru

.
Bastian Tampubolon, Indonesiamonitoring.com
- Jumat, 12 Desember 2025 | 19:34 WIB

Tapanuli Selatan —indonesia-monitoring.com.

Dua minggu pasca banjir bandang yang menerjang wilayah hilir Batang Toru, kondisi Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, masih memprihatinkan. Desa yang berada di perbatasan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah itu kini berubah menjadi hamparan puing-puing, menyisakan cerita duka mendalam bagi warganya.

Banjir bandang dahsyat menyapu bersih hampir seluruh permukiman. Sebagian besar rumah hanyut, tersisa hanya fondasi yang tertimbun lumpur dan tumpukan gelondongan kayu berukuran raksasa. Tragedi ini menelan sedikitnya 100 korban jiwa, sementara sekitar 80 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Peristiwa terjadi di Desa Garoga, berbatasan langsung dengan Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, yang sama-sama berada di hilir ekosistem Batang Toru—wilayah yang selama ini dikenal sebagai kawasan rawan deforestasi dan alih fungsi lahan.

Bencana terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu selama tiga hari berturut-turut, memicu luapan sungai dan longsoran material kayu dari arah hulu.

Korban adalah warga Desa Garoga dan desa-desa sekitar yang tidak sempat menyelamatkan diri ketika air bah datang hanya dalam hitungan menit. Para relawan, aparat pemerintah, hingga donatur kini dikerahkan untuk menyalurkan bantuan di tengah kondisi akses yang terputus.

Warga menduga kuat gelondongan kayu yang menyumbat jembatan dan terbawa arus berasal dari aktivitas pembukaan lahan dan penebangan di hulu sungai. Seorang warga berusia 50 tahun mengaku tak pernah melihat kayu sebesar itu sepanjang hidupnya. Ia menilai kayu-kayu tersebut bukan kayu lapuk, melainkan kayu baru yang diduga terkait alih fungsi lahan bekas perusahaan kayu menjadi perkebunan sawit.

Banjir bandang melaju tanpa kendali setelah aliran sungai tersumbat gelondongan kayu. Jalan lintas vital Padang Sidempuan–Sibolga terputus, membuat pengiriman logistik harus dilakukan dengan berjalan kaki, meniti jembatan darurat dari kayu seadanya. Warga memikul bantuan di pundak hanya untuk bertahan hidup.

 

Tragedi Garoga menyisakan pertanyaan besar: siapa yang bertanggung jawab atas rusaknya hulu Batang Toru? Di tanah yang subur seperti Sumatra, air seharusnya menjadi anugerah—tetapi tanpa hutan, setiap hujan berubah menjadi ancaman mematikan.

(Mail Hr)

Editor: Bastian Tampubolon

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

350 Personel, Nihil Tersangka

Sabtu, 1 Agustus 2026 | 09:03 WIB
X