Ia juga mengaku mendengar adanya tembakan dari arah ladang dan membantah melakukan penembakan langsung ke arah warga.
SS juga mengungkap dugaan keterlibatan oknum aparat.
Ia menyebut ada oknum anggota Polsek berinisial IPTU GS yang diduga memegang dan memukulnya serta melontarkan pernyataan bernada intimidatif.
Dalam situasi panik, SS sempat menghubungi seorang anggota Kodim berangkat Serma bernama Wawan, namun kondisi rumah yang sudah rusak dan istrinya yang pingsan membuat situasi semakin tidak terkendali.
Saat ini, SS menjalani perawatan medis di RS Bhayangkara TK III Tebing Tinggi dalam status tahanan.
Polisi telah menyita barang bukti berupa senapan angin, airsoft gun, dan tabung gas air mata.
Didampingi kuasa hukumnya, Martin Silalahi, SH dari Peradi, SS menyatakan telah membuat laporan resmi atas dugaan sketsa, perusakan, dan pembakaran sepeda motor nya 3 unit dan mobil Daihatsu kerusakan yang dialaminya.
Sabarmen Saragi juga mengatakan bahwa orang yang datang saat itu lebih kurang 100 dan warga bukan penduduk setempat, katanya.
Keluarga SS mendesak Kapolres Simalungun, Kapolda Sumatera Utara, hingga Kapolri untuk turun tangan dan memastikan kasus ini diusut secara terang benderang.
Hingga berita ini diterbitkan, Polres Simalungun masih melakukan pendalaman guna mengungkap rangkaian peristiwa secara utuh dan menjamin penegakan hukum berjalan adil sesuai fakta di lapangan.
Bastian