Medan | Indonesia-monitoring.com —
Meninggalnya seorang personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Medan, Ali Ginting (52), memicu sorotan dari kalangan aktivis di Sumatera Utara. Ketua LSM Kebenaran Keadilan DPC Kota Medan, M. Habib, mendesak Pemerintah Kota Medan untuk mengevaluasi bahkan mencopot pejabat terkait di lingkungan Satpol PP menyusul dugaan kelelahan kerja yang dialami almarhum saat menjalankan tugas.
Ali Ginting, warga Dusun III Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, dilaporkan meninggal dunia pada Selasa malam (3/3/2026) dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah menjalankan tugas pengamanan kegiatan Ramadan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, almarhum diduga telah bekerja selama kurang lebih 12 jam sebelum kondisinya menurun.
Menurut M. Habib, kejadian tersebut tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa. Ia menilai perlu adanya evaluasi serius terhadap sistem kerja dan pengawasan di tubuh Satpol PP Kota Medan.
“Kematian Bapak Ali Ginting bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga menjadi cerminan kondisi kerja yang harus segera diperbaiki agar tidak menimbulkan korban lain di masa depan,” ujar Habib kepada wartawan.
Habib meminta Walikota Medan, Inspektorat, serta Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Medan segera melakukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab meninggalnya personel tersebut.
Ia juga mendesak agar dilakukan evaluasi terhadap kebijakan jam dinas yang dinilai berpotensi melebihi ketentuan kerja yang berlaku.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang perlu menjadi perhatian dalam kasus tersebut.
Pertama adalah dugaan kelebihan beban kerja tanpa pengawasan kesehatan yang memadai.
Ia menilai sistem jadwal kerja yang mengharuskan personel bertugas hingga 12 jam, khususnya pada masa Ramadan, berpotensi menimbulkan kelelahan fisik dan mental.
Selain itu, ia juga menyoroti dugaan keterbatasan sarana penanganan darurat bagi personel yang bertugas di lapangan.
Habib menilai keberadaan tenaga medis atau fasilitas kesehatan yang siap siaga di lokasi tugas menjadi hal penting untuk mencegah risiko yang lebih fatal.
“Jika penanganan awal tersedia saat almarhum mulai merasakan kondisi lemah, kemungkinan tragedi ini bisa diminimalisir,” ujarnya.