Menurut Wawan, menjelang musim liburan akhir tahun, Yogyakarta sebagai salah satu kota acuan IHK (Indeks Harga Konsumen) dan destinasi wisata utama di Indonesia, hampir dipastikan berpotensi terjadi peningkatan permintaan berbagai komoditas.
Tujuan pemantauan, katanya, untuk Memastikan keterjangkauan harga di pasar, Memastikan ketersediaan pasokan dari hulu hingga hilir, dan Memperkuat koordinasi seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pengendalian inflasi daerah.
Lebih lanjut Wawan menerangkan, Pasar Beringharjo sebagai pasar utama pusat kegiatan dan bisnis ekonomi rakyat terbesar di DI Yogyakarta dan juga Gudang Indomarco Prismatama menjadi salah ‘barometer’ utama harga kebutuhan pokok, serta menjadi lokasi strategis untuk melihat langsung kondisi lapangan. Dari kedua titik ini, dapat diperoleh gambaran nyata mengenai suplai barang, kestabilan harga, dan kelancaran distribusi.
“Informasi tersebut sangat penting sebagai dasar bagi penentuan langkah kebijakan berikutnya,” tukas Wawan.
Selanjutnya, pemantauan juga menjadi kesempatan untuk menyamakan persepsi dan memastikan berbagai langkah stabilisasi benar-benar berjalan efektif. Peran bersama TPID sangat penting dalam memastikan upaya pengendalian inflasi dapat dilakukan secara terukur dan tepat sasaran. Begitu pula peran OPD teknis, aparat keamanan, Bulog, distributor, serta pelaku pasar yang menjadi ujung tombak ketersediaan barang kebutuhan pokok.
Masih kata Wawan, dinamika harga menjelang hari besar keagamaan sangat sensitif. Karena itu, pemantauan langsung seperti ini menjadi bagian dari langkah antisipatif agar gejolak harga dapat dicegah sejak dini. Hasil pemantauan lapangan diharapkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi, mulai operasi pasar, perbaikan distribusi, hingga penguatan koordinasi dengan produsen dan pemasok.
Kepada Wesly dan rombongan, Wawan menginformasikan, Kota Yogyakarta memiliki Kios ‘Segoro Amarto’ yaitu singkatan dari Semangat Gotong-royong agawe majuning Ngayogyokarto/ Semangat Gotong-royong untuk kemajuan Yogyakarta).
Kios tersebut tersebar di pasar-pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Kios Segoro Amarto dimaksudkan sebagai kios yang menjadi acuan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Kota Yogyakarta. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu instrumen pengendalian harga/ mencegah inflasi.
“Kami juga memiliki inovasi Warung Mrantasi, singkatan dari Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi). Di sini kami mengajak seluruh pedagang untuk memiliki kesadaran dan kesanggupan agar bersama-sama tanggap serta peduli terhadap pengendalian inflasi di Kota Yogyakarta,” jelas Wawan.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, kata Wawan, pihaknya mengimbau agar para pedagang pasar serta seluruh pelaku distribusi pemasok/supplier bahan pokok dapat berkegiatan seperti biasa.
“Mohon jangan menaikkan harga. Kalaupun harga di rantai pasok tata niaga naik, buatlah harga yang wajar dan tidak memberatkan konsumen,” katanya.
jangan sengaja menimbun bahan pokok kebutuhan masyarakat, serta ber-empati kepada ‘rakyat kecil’, yang sekarang mungkin sudah mulai ‘menjerit’, karena harga-harga mungkin mulai naik, musim penghujan sudah mulai datang; dan masyarakat di satu sisi, juga memiliki kebutuhan yang lain, misalnya SPP pendidikan anak, biaya kesehatan, tagihan listrik, air, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan keseharian.
Wawan mengajak Wesly dan rombongan mengunjungi gudang Indomarco Yogyakarta untuk melihat stok barang. Kemudian, penyerahan cenderamata dari Wawan kepada Wesly, dan sebaliknya.
Turut mendampingi Wesly, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Zainal Siahaan, Plt Kepala BPKD Alwi Adrian Lumbangaol, Kabag Perekonomian dan SDA Sari Dewi Rizkiyani Damanik, serta Kabag Prokopim Fadlan Syarkawi. (S.Sitorus).