Tanjungbalai, Indonesia Monitoring.com
Aksi unjuk rasa yang digelar Perhimpunan Aktivis Muda Indonesia (PAMI) di depan Gedung DPRD Kota Tanjungbalai, Senin (3/8), berlangsung memanas.
Kekecewaan massa memuncak setelah unsur pimpinan DPRD tidak kunjung menemui mereka sejak aksi dimulai, sehingga massa membakar ban dan sempat menerobos masuk ke halaman kantor DPRD sebelum akhirnya situasi berhasil dikendalikan aparat keamanan.
Ketegangan baru mereda setelah Ketua Komisi C DPRD Kota Tanjungbalai, Martin Chaniago, menemui dan mengajak massa aksi PAMI berdialog di Aula DPRD.
Dalam dialog tersebut, Ketua umum PAMI Rizky Simatupang, menyerahkan pernyataan sikap yang memuat sejumlah dugaan persoalan di Politeknik Tanjungbalai. Di antaranya terkait belum terbitnya akreditasi terbaru, dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam pengambilan kebijakan, mutasi pegawai yang dinilai tidak objektif, dugaan tekanan terhadap pegawai, hingga permintaan evaluasi rencana pemberian dana hibah kepada perguruan tinggi tersebut.
Koordinator aksi, Rizky Simatupang, menegaskan aksi yang dilakukan bukan bertujuan menyerang lembaga atau individu tertentu, melainkan bentuk kepedulian masyarakat terhadap masa depan pendidikan tinggi di Kota Tanjungbalai.
"Aksi ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Kami datang membawa aspirasi agar tata kelola pendidikan di Politeknik Tanjungbalai berjalan baik, transparan, dan akuntabel. Ini bentuk kepedulian kami terhadap kemajuan daerah," ujar Rizky.