• Kamis, 20 Agustus 2026

Dari Budaya ke Kolaborasi: Halal Bihalal Perantau Sumbagsel Tegaskan Identitas dan Arah Pembangunan Bersama

.
Bastian Tampubolon, Indonesiamonitoring.com
- Minggu, 26 April 2026 | 15:14 WIB

Palembang | indonesia-monitoring.com

Halal Bihalal Masyarakat Perantau Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) di Griya Agung, Palembang, Sabtu, 25 April 2026, tak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Kegiatan ini menegaskan penguatan identitas budaya sekaligus mendorong sinergi konkret antarwilayah untuk pembangunan kawasan.

Sejumlah pejabat tinggi negara dan kepala daerah se-Sumbagsel hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani, Gubernur Jambi Abdullah Sani, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal serta Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, M.T., M.M.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai Sumbagsel memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menyebut kawasan ini kaya akan sumber daya alam, budaya, dan sejarah, namun membutuhkan sinergi yang kuat agar bisa berkembang maksimal, “Kita ini besar, tapi kalau sendiri-sendiri tidak akan kuat,” ujarnya.
Ia pun mendorong lima provinsi di Sumbagsel untuk duduk bersama menyusun langkah konkret, termasuk membentuk tim kecil guna merumuskan peta jalan pembangunan yang realistis dan dapat segera dijalankan.

Senada dengan itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan pentingnya langkah nyata dari pertemuan tersebut. Ia menyampaikan bahwa gagasan pertemuan ini berangkat dari keinginan untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi Sumbagsel, namun ia mengingatkan agar tidak berhenti pada wacana, “Fokus saja pada program yang bisa selesai dalam tiga tahun ke depan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya konektivitas Tol Trans Sumatera seperti ruas Palembang-Bengkulu, yang dinilai mampu membuka akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin turut menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat historis kawasan. Ia menyebut Sumbagsel memiliki jejak panjang sejak era Sriwijaya sebagai kekuatan maritim.

“Ini bukan feodalisme, tapi bagaimana kita bangga sebagai warga Sumbagsel dan siap berkontribusi,” katanya. Ia menegaskan, semangat tersebut harus diarahkan untuk mendukung program pembangunan nasional sekaligus mendorong kemajuan daerah.
Dalam testimoninya, Gubernur Herman Deru menyampaikan kebanggaannya atas kepercayaan menjadikan Sumatera Selatan sebagai tuan rumah kegiatan ini. Ia menilai momentum tersebut sebagai awal mempererat kebersamaan lintas daerah. “Kami bangga Sumatera Selatan dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, pertemuan ini bukan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. “Bukan maksud kita untuk unjuk gigi bahwa kita besar dan istimewa,” katanya. Ia berharap kebersamaan yang terjalin dapat terus berlanjut. “Semoga keakraban ini menjadi langkah bersama untuk membangun daerah kita, tanpa melupakan kepentingan nasional,” tuturnya.

Di tengah agenda strategis tersebut, nuansa budaya tetap menjadi ruh kegiatan. Denting musik kulintang khas Kabupaten OKU Timur mengalun sejak tamu mulai berdatangan, menciptakan suasana hangat dan akrab yang memperkuat identitas daerah di tengah pertemuan besar.

Tak hanya itu, wastra khas OKU Timur, angkinan, tampil dalam pergelaran busana daerah, bersanding dengan kain tradisional dari Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, dan Lampung. Kehadiran angkinan menjadi simbol jati diri yang diperkenalkan di panggung yang lebih luas.

Di sela kegiatan, Bupati OKU Timur Lanosin mengaku merasakan kehangatan dalam pertemuan tersebut. Ia mengatakan, suasana yang terbangun bukan hanya karena berkumpulnya para tokoh, tetapi juga karena kuatnya ikatan antarperantau. “Rasanya hangat sekali, karena kita tetap saling terhubung meski sudah jauh dari kampung halaman,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan kebanggaannya saat disambut alunan kulintang khas OKU Timur dan melihat angkinan tampil di panggung budaya. Menurutnya, itu bukan sekadar simbol, melainkan representasi jati diri. “Angkinan itu bukan hanya kain, tapi cerita tentang asal-usul kita,” katanya.

Harapannya, kebersamaan ini terus terjaga, karena dari silaturahmi seperti inilah lahir ide, peluang, dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, "Kalau kebersamaan ini terus terjaga, dampaknya akan terasa ke masyarakat, pelan, tapi nyata,” tutupnya. (Gerrard)

Editor: Bastian Tampubolon

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

Iptu Toman Resmi Jabat Kasat Reskrim Polres Sergai

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:06 WIB
X