Ia menambahkan, stok beras yang tersedia di gudang diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan distribusi selama dua hingga tiga bulan ke depan apabila kondisi pasokan belum membaik.
Hal senada disampaikan pemilik Kilang Padi AA, Ahun. Ia mengungkapkan bahwa produksi di kilangnya turun hingga sekitar 80 persen dibandingkan kondisi normal.
Menurutnya, tingginya harga gabah saat panen raya membuat pihaknya tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar. Setelah masa panen berakhir, ketersediaan gabah semakin terbatas sehingga pasokan harus dicari hingga ke wilayah Tapanuli Utara dengan harga yang lebih tinggi.
"Stok yang kami miliki diperkirakan hanya cukup untuk sekitar satu bulan ke depan. Saat ini kami juga belum memproduksi beras kemasan lima kilogram," katanya.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Tanjungbalai, Tajul Abrar, mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pihak kilang padi untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi pasokan beras.
Menurutnya, hasil monitoring menunjukkan bahwa keterbatasan ketersediaan gabah di Sumatera Utara menjadi penyebab utama terganggunya produksi beras di wilayah Asahan.
"Pemerintah Kota Tanjungbalai akan terus melakukan monitoring serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna mencari solusi atas kondisi ini agar pasokan beras kembali stabil dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," ujar Tajul Abrar.(Yan)