PALEMBANG —indonesiamonitoring.com
Memasuki era digital yang penuh tantangan, peran mahasiswa sebagai agen perubahan menjadi kunci dalam menjaga persatuan bangsa. Menyadari hal itu, Tim Cegah Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri berkolaborasi dengan Direktorat Binmas Polda Sumsel menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan dan Pencegahan IRET di lingkungan kampus.
Kegiatan bertema "Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dalam Menjaga Persatuan Bangsa serta Mencegah Radikalisme, Intoleransi, dan Terorisme" ini dilaksanakan pada Rabu, 26 Agustus 2026 di Academic Center Building UIN Raden Fatah Palembang. Sekitar 450 orang hadir, terdiri dari pimpinan kampus, jajaran Polda Sumsel, dan 400 mahasiswa baru UIN Raden Fatah.
Bedah Paham IRET dari Hulu ke Hilir
Seminar menghadirkan 5 narasumber. Kombes Pol Kurnia Hadi, S.H., S.I.K., M.H., M.P.P., P.H.D. selaku pemateri utama dari Densus 88 AT Polri, menjelaskan bahwa terorisme adalah sebuah proses. Dimulai dari intoleransi, berkembang ke radikalisme, ekstremisme, hingga berpotensi menjadi terorisme.
"Di era digital, penyebaran paham IRET jauh lebih cepat dan masif. Mahasiswa harus punya literasi digital yang kuat agar tidak mudah terprovokasi narasi kebencian," tegasnya. Ia juga menyoroti perkembangan komunitas NVE dan menekankan pentingnya menyebarkan narasi positif di ruang digital.
Materi dilanjutkan Brigpol Wahyu Ansori, S.H., M.H. yang mengupas pola penyebaran paham radikal secara konvensional maupun digital, serta kelompok yang rentan menjadi sasaran. Sementara Brigpol Aprican Rinaldi, S.H., M.H. fokus pada strategi "Kontra Narasi" melalui konten positif di media sosial dan memaparkan data dashboard kegiatan kontra narasi Juli 2026.