Brigpol Achmad Nur Rohman, S.H. mengajak mahasiswa membiasakan prinsip "Stop, Cek, Pikir, Bagikan" sebelum menyebarkan informasi. Ia juga memaparkan 3 cluster ekstremisme: RMVE, IMVE, dan NVE, serta faktor kerentanan seperti perundungan, broken home, dan akses gawai berlebihan. Data khusus Sumsel menunjukkan 27 nomor terkait pengembangan TCC telah teridentifikasi.
Yang paling menyentuh adalah testimoni dari Abdurrahman Taib, Eks Napiter Sumsel. Ia berbagi pengalaman tentang faktor penyebab terpapar, metode perekrutan kelompok radikal, dan bahaya paham tersebut bagi keutuhan NKRI. "Mahasiswa harus jadi benteng pertama. Kuatkan wawasan kebangsaan, pilih pergaulan positif, dan bijak di media sosial," pesannya.
Wakil Rektor III UIN Raden Fatah, Dr. Syahril Jamil,M.Ag., serta jajaran Dir Binmas Polda Sumsel yang dipimpin Kombes Pol Hari Purnomo turut hadir mendukung penuh kegiatan ini.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan benteng ideologi di kampus-kampus Sumsel, khususnya Palembang. Dengan mahasiswa yang kritis, toleran, dan berwawasan kebangsaan, penyebaran paham IRET dapat dicegah sejak dini.
───
Densus 88 AT Polri Edukasi 100 Siswa MAN 2 Palembang: Cegah IRET Sejak Bangku Sekolah
Di hari yang sama, Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel juga menyasar generasi SMA. Bertempat di MAN 2 Palembang Kampus B, Briptu Nicolas Saputra, S.H. memberikan penguatan Wawasan Kebangsaan kepada 100 siswa dan guru.
Materi mencakup pengenalan 4 Konsensus Dasar Negara, ciri website dan akun radikal, tren modus baru terorisme, hingga strategi pencegahan di lingkungan sekolah. "Terorisme tidak merujuk pada satu agama. Semua pihak harus waspada," ujarnya.