"Banyak hal yang harus kita lakukan bersama di tingkat desa. Saat anak-anak berada di rumah dan lingkungan keluarga, mereka menghadapi tantangan penggunaan gadget yang berlebihan hingga kebiasaan mengendarai motor di usia yang belum semestinya," ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa pihak sekolah beberapa kali menemukan perubahan perilaku siswa yang memerlukan perhatian dan pembinaan lebih lanjut. Karena itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua harus terus diperkuat agar proses pendidikan berjalan searah.
"Jangan sampai semua tanggung jawab dibebankan kepada guru. Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, dan peran orang tua sangat menentukan," ungkapnya.
Wakimin juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menekan angka anak putus sekolah. Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk mengembalikan anak-anak yang sempat putus sekolah agar kembali mendapatkan hak pendidikannya. Ia mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan apabila menemukan anak yang putus sekolah atau belum mendapatkan layanan pendidikan.
"Kalau ada anak yang putus sekolah, segera sampaikan kepada kami. Jangan biarkan mereka kehilangan masa depan hanya karena terputus dari pendidikan," tukasnya.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, Kabupaten OKU Timur berupaya memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari layanan pendidikan. Sebab, keberhasilan pembangunan daerah pada akhirnya ditentukan oleh kualitas generasi yang dipersiapkan sejak hari ini.