Santri Harus Jadi Pemain (Menyambut Hari Santri Nasional 2023)
Padang Lawas, SUMUT
Indonesia-monitoring.com
Santri Harus Jadi Pemain (Menyambut Hari Santri Nasional 2023) Hasibuan, M.Pd
(Bendahara LAZISNU PC NU Kab. Padang Lawas)
Banyak para Ulama memberikan definisi Santri, salah satunya Guru kita Rois PW NU Sumatera Utara. Almarhum KH, Syekh Usman Ahmad Siregar Bin KH Syekh Ahmad Daud Siregar, pendiri pondok pesantren Syekh Ahmad Daud Annaqsyabandy atau lebih dikenal dengan pesantren Nabundong. Salah satu pesantren Tertua di wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara. Pesantren Nabundong (Darul Ulum) berdiri sejak Tahun 1928 Masehi.
Beliau mendefinisikan santri dengan sederhana, berasal dari dua kata, juga gabungan dari Dua bahasa. San penggalan kata dari "insan" (Arab) yang bermakna manusia. Sedangkan Tri, adalah berasal dari bahasa Inggris yang berarti "Tiga". Jika digabungkan menjadi Insan Ketiga, atau dalam bahasa sederhananya adalah "Manusia Ketiga".
Masih dalam keterangan beliau, Manusia pertama (bukan dalam penciptaan), Dimata Allah Sang Pencipta adalah utusan Allah (Nabi dan Rasul), mereka inilah yang disebut sebagai manusia pertama dalam pandangan Allah SWT. Merekalah yang sesungguhnya berhak menjadi insan paripurna. Makhluk yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap perintah Allah.
Mereka juga yang senantias menjadi pelopor, aktor perubahan dalam sejarah peradaban manusia. Bahkan tidak jarang mereka menjadi korban keganasan manusia manusia yang tidak menerima perubahan yang terjadi disekitar mereka. Sebut saja Rasulullah Saw, sang proklamator, orator, konseptor menjadi orang yang dimusuhi kaumnya kala itu.
Rasulullah Saw menjadi insan paripurna, disepanjang zaman.
Jika anda seorang pemimpin maka dalam diri Rasulullah ada contoh terbaik sebagai seorang pemimpin. Tidak tanggung tanggung Michael Hart dalam bukunya "100 tokoh berpengaruh didunia" menempatkan Rasulullah diurutan pertama sebagai pemimpin paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia.
Jika anda politisi, maka contohlah Rasulullah sebagai politisi handal, diplomat ulung, pebisnis handal, peternak paling sukses. Dan banyak lagi kesuksesan beliau. Maka sangat tepat dan wajar, guru kita Syekh Usman Ahmad Siregar mengatakan bahwa manusia pertama dibumi ini adalah para Nabi dan Rosul.
Selaras dengan ayat Alquran yang bermakna "didalam diri Rasul itu ada contoh suriteladan yang baik" bukan hanya dalam persoalan beragama, bahkan dalam ranah sosial, politik, ekonomi, budaya para Rasul itu menjadi contoh terbaik sepanjang zaman. Maka salah kaprah mereka yang mengatakan agama itu hanya berbicara akhirat (ibadah, amal) saja. Jauh dari itu, agama sesungguhnya rool dan model dalam hidup dan kehidupan ummat manusia. Apalagi mereka yang mengatakan agama perlu dipisahkan dari politik, mereka sesungguhnya adalah orang yang tidak memahami agama itu sendiri.
Selanjutnya manusia kedua menurut guru kita Syekh Usman Ahmad Siregar adalah para ulama, Alquran mengisyaratkannya dalam suroh Ali Imron ayat 18, dengan istilah " Ulul Ilmi" orang orang yang diberi pengetahuan yang luas. Merekalah yang berhak menyandang manusia kedua diatas bumi ini. Dalam sebuah hadis Nabi " Ulama itu pewaris Nabi". Dengan makna, setelah ditutupnya Masa Kenabian, maka estapet kepemimpinan ini diteruskan oleh para Ulama. Meski pun mereka tidak sama dengan para Nabi yang diberi segala ilmu (Komplit).
Para ulama hanya diberikan sebagian bagi setiap orang. Sehingga ada ulama ahli dibidang bahasa, ahli dibidang kesehatan, ahli dibidang politik, hukum, sosial, budaya. Dan tidak sedikit yang menguasai dua tiga ilmu saja. Disini perbedaan dengan para Nabi, yang menguasai segala line kehidupan. Sedangkan Ulama hanya satu atau dua bidang ilmu saja. Dalam Islam setelah wafatnya Nabi Saw estapet ini dilanjutkan oleh para Sahabat (Khulafaur Rasyidin), Abu Bakar, Umar, Usman, Dan Ali Rodiallohu anhum. Kemudian para Tabiin, dilanjutkan oleh para ulama ulama, Dalam bidang fiqh, Malik, Hambali, Hanafi dan Syafi'i. Dalam bidang Tauhid, Asa'riyah, Maturidiyah, AlGhazali.
Sepeninggal ulama ulama besar ini, dilanjutkan oleh para ulama ulama dimasing masing negara, KH. Cholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy'ari , Wahab Hasbullah, dll merekalah manusia pertama secara Nasional dinegara yang kita cintai ini. Resolusi jihad yang kita kenal hari ini dengan Hari Santri Nasional sebagai bukti mereka adalah manusia paripurna di atas bumi ini. KH, syekh Musthafa Husein Pendiri Pondok pesantren Mustafawiyah Purba Baru, KH Syekh Ahmad Daud Siregar, KH Ahmad Dahlan, KH. Mukhtar Muda Nasution, didaerah kita Tapanuli Selatan, Sidimpuan, Madina, Paluta, Palas kita ini. Torehan sejarah yang mereka ukir, melahirkan ulama ulama besar saat ini. Dan tidak sedikit mereka yang menjadi murid murid beliau menjadi aktor perubahan dibidangnya masing masing. Legislatif, yudikatif eksekutif juga tidak tinggal, banyak lulusan dari pesantren pesantren ini mengabdikan diri mereka menjaga merawat warisan dari para ulama ulama kita diatas.
Yang terakhir menurut guru kita Syekh Usman Ahmad Siregar (wafat 2023), manusia ketiga tersebut adalah Santri yang tersebar diberbagai pesantren di seluruh Indonesia yang kita cintai ini. Khususnya di daerah kita Tapanuli Bagian Selatan ini, ada ribuan atau bahkan jutaan jumlahnya. Santri ini bisa kita bagi menjadi dua: Pertama, Mereka yang pernah mengenyam pendidikan dilembaga lembaga pesantren. Mereka inilah yang kita sebut sebagai santri, baik itu mereka yang mondok, asrama dan juga pulang hari. Kedua, mereka yang mengenyam pendidikan lewat pengajian pengajian (non formal) yang dibuka oleh seorang kiyai, ulama. Dalam istilah jawanya mereka disebut dengan "Santri Kalong".
Melihat hal ini, tidak salah lagi kita sebutkan, santri harus tampil menjadi aktor aktor perubahan disegala line kehidupan. Santri harus berani menjadi "Pemain" bukan lagi sebatas penonton saja. Apalagi hanya sebagai tim hore hore, disetiap pengambilan keputusan dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Secara Nasional Kaum Santri juga telah berani menampilkan diri (Almarhum Gusdur) menjadi catatan sejarah yang tidak bisa kita lupakan, meskipun dalam 20 tahun terakhir ini, kaum santri seperti kehilangan arah.
Namun sinyal kesantrian ini, mulai terlihat di 2024, hal ini kembali di lanjutkan Oleh " Amin" (Gus Muhaimin). Sebagai anak idiologis dari Gusdur (Kaum Santri) itu sendiri. Juga Mahfud MD (Anak Kiyai Madura) mewakili kaum santri meski masih diposisi yang sama dengan Gus Muhaimin (wakil). Tentunya 2029 harus lebih berani menjadi pemain para santri ini (orang no 1)di Republik ini.
Di Sumatera Utara Militer, masih mendominasi sebagai gubernur. Bahkan kaum santri masih sebatas penonton, kalau pun kaum santri berani tampil, masih sebatas orang kedua (wakil gubernur). Jika kita perkecil lagi, di Tapanuli Selatan Mantan Bupati Muhammad Soleh Harahap, menuliskan sejarah, Anak dari Kiyai pimpinan pesantren Almuktariyah Sungai Dua (Kecamatan Portibi, Padang Lawas Utar) dan hampir di Padang Lawas Utara saat ini sejak dimekarkan, kaum santri hanya sebagai Tim Hore Hore saja.
Padang Lawas saudara kembar dari Padang Lawas Utara kaum santri masih juga hanya sebagai pelengkap (wakil Bupati) sejak dimekarkan. Meski pun dalam Ahir masa jabatan mereka, karena kondisi kesehatan Bupati Terpilih Santri itu maju sebagai Pelaksana Tugas (PLT Bupati). Tentunya dimasa peralihan ini, kaum santri harus berani tampil menjadi orang pertama (Bupati). Santri tidak lagi sebatas penonton, tim hore hore. Tapi harus berani menjadi penentu kebijakan dimasing masing daerah.
Maka momen hari santri ini, menjadi refleksi bagi kita. Apalagi mereka para santri yang sudah toke, dan tokoh. Semestinyalah menjadi prioritas utama. Santri harus berani menjadi pemain dimasing masing jenjang. Bukankah ketika nyantri dulu, pepatah "Pemuda hari ini, pemimpin masa depan" begitu melekat di memori kita. Tujuh tahun sebagai santri, dan ditopang oleh pengalaman sebagai mahasiswa, harusnya kita berani tampil dalam percaturan politik ini.
Selamat hari santri, Jihad Santri Jayakan Negeri.(Bonardon)