Pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru mengenai siapa pihak yang menerima material yang diduga tidak sesuai spesifikasi, mengapa material tersebut tetap digunakan, serta bagaimana mekanisme pengawasan kualitas pekerjaan dijalankan sejak awal.
Founder GERMASI (Gerakan Masyarakat Anti Korupsi), Ridwan Maulana, SH., C.PL., CDRA, menilai dugaan penyimpangan tersebut tidak dapat dianggap sebagai persoalan teknis biasa.
"Apabila material agregat batu pecah yang digunakan tidak sesuai spesifikasi dalam dokumen perencanaan maupun RAB, maka hal itu merupakan penyimpangan pekerjaan yang harus dipertanggungjawabkan. Kondisi tersebut diduga dapat berpotensi menurunkan mutu konstruksi serta merugikan keuangan negara dan masyarakat," tegas Ridwan.
Menurutnya, setiap perubahan spesifikasi material dalam proyek yang bersumber dari Dana Desa harus memiliki dasar teknis yang sah serta mendapat persetujuan sesuai ketentuan. Apabila tidak ada dasar tersebut, maka perubahan itu patut diduga sebagai pelanggaran terhadap kontrak atau dokumen pelaksanaan pekerjaan.
Ridwan juga menyoroti lemahnya fungsi pengawasan dalam proyek tersebut.
"Pertanyaannya sekarang, di mana fungsi Tim Pelaksana Kegiatan (TPK), konsultan pendamping jika ada, pendamping desa, kecamatan, hingga aparat pengawas internal? Mengapa material yang diduga tidak sesuai spesifikasi tetap dipasang? Jangan sampai pengawasan hanya sebatas formalitas administrasi sementara kualitas pekerjaan di lapangan diabaikan," ujarnya.
Ia meminta Inspektorat Kabupaten OKU Timur segera melakukan Audit Dengan Tujuan Tertentu terhadap proyek tersebut, termasuk menguji kesesuaian antara dokumen RAB, spesifikasi teknis, volume pekerjaan, mutu material, dan hasil pekerjaan di lapangan.
"Jika dari hasil audit membuktikan adanya penyimpangan spesifikasi yang menurunkan mutu pekerjaan atau merugikan keuangan negara, maka Inspektorat atau APIP wajib bertindak tegas dan memprosesnya sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak boleh ada toleransi terhadap penyimpangan penggunaan Dana Desa, karena setiap rupiah merupakan uang rakyat yang haru